Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surah Al
Ahqaaf ayat 15-16:
“… sehingga apabila ia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh
tahun, maka ia berdo’a; ‘Ya Allah, tunjukilah aku jalan untuk mensyukuri
nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, agar aku
dapat berbuat amal shalih sebagaimana yang Engkau ridhai; berilah kebaikan
kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat
kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.''”
“Mereka itulah
orang-orang yang Kami (Allah) terima dari mereka amal-amal baik yang telah
mereka kerjakan, dan Kami ampuni segala kesalahan mereka bersama para penghuni
surga, sebagai janji yang benar yang telah Allah janjikan kepada mereka."
Sesungguhnya berjalan menuju apa-apa yang diridhai Allah
Subhanahu wa Ta’ala itu merupakan tujuan seorang hamba yang bersedia
memposisikan dirinya dihujani cercaan akibat dari tindak ketaatannya kepada
Allah, oleh mereka yang berbeda pandangan dan juga keyakinan. Untuk itu sudah
seharusnya seorang hamba bersiap dengan membekali diri dalam menempuh
perjalanan menuju alam akhirat. Dan juga berjalan di jalan orang-orang yang
telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu jalan para nabi, orang-orang yang benar
imannya, orang-orang yang mati syahid dan juga orang-orang yang berbuat amal
shalih.
Kehadiran seorang teman «yang mendukung» dalam sebuah perjalanan mempunyai kedudukan yang amat penting. Untuk itu, orang-orang yang bersegera menuju Allah, sudah seharusnya saling menolong dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa, juga saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Hendaknya setiap orang terhadap sahabatnya mendudukkan diri sebagaimana seorang yang mengobati rasa sakit kekasihnya, menyuapkan kepadanya obat-obatan yang pahit, dengan harapan akan menimbulkan akibat yang baik dan menjadikannya sehat kembali.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyayangi hamba-Nya yang cepat dalam memahami apa yang diciptakan baginya, dan menyiapkan bekal untuk hari kebangkitan di akherat kelak. Jiwa manusia yang fitri sangat merindukan kedudukannya di sisi Allah, dan juga tanah airnya yang jauh lebih baik nilainya dari apa yang ia dapatkan di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar